Posts

Pada Akhirnya Ternyata Biasa Saja

Tahun 2022 masih terlalu dini untuk di isi dengan patah hati. Tapi nyatanya memang harus seperti ini. Di bulan kedua yang intensitas hujannya masih sangat tinggi ini, hati gue dipatahkan lagi. My Favorit person , dia resmi mendeklarasikan dirinya meminang perempuan lain yang entah siapa, gue juga nggak kenal. Hehe Gue suka sama dia sudah lama sebetulnya. Mungkin ini tahun keempat jika saja tahun ini dia belum resmi jadi milik perempuan lain. Gue nggak pernah ada hubungan spesial sama dia. Gue cuma kagum, suka, dan selalu merasa lega dan aman ketika gue ingat sama. Bisa di bilang setiap kali ada masalah orang pertama yang bisa gue bikin merasa tenang dan aman ya dia. Meskipun gue juga nggak yakin kalau dia tahu bahwa perannya di hidup gue seberarti itu. Makanya kan gue bilang he’s my favorit person . Bukan pacar atau atau apapun itu. Pokoknya ya, dia jadi orang favorit aja gitu. Kayaknya belum ada deh, gue kenal sama laki-laki lain yang bisa menjadi favorit banget di hati gue kayak ...

Jaga Jarak

Aku mendengar Ibu dan Bapak bertengkar lagi perihal uang. Bapak baru saja di rumahkan beberapa bulan yang lalu akibat pandemi covid-19. Perusahaan tempat Bapak bekerja melakukan pengurangan pegawai dan Bapak ialah salah satu pegawai yang memenuhi kriteria untuk di rumahkan. Mengingat usianya yang dianggap sudah bukan usia yang produktif lagi. Ibu terus mengomelinya tanpa henti setiap saat. Ibu bilang “Mau di kasih makan apa anak-anak, Pak. Kalau seperti ini terus, Pak.” Sembari menangis Ibu terus mengoceh pada Bapak. Sedangkan Bapak hanya diam sembari menahan kepiluannya sendiri. Tiara dan Andi sedang tak di rumah. Mereka sedang di tempat Paman menumpang wifi untuk mengerjakan tugas sekolahnya. Hanya Paman lah yang mau berbaik hati menyumbangkan jaringan internetnya untuk kepentingan pendidikan. Tidak heran, karena pamanku seorang dosen di salah satu universitas swasta di kota kami. Beliau tentu sangat perduli pada pendidikan anak-anak di desa kami. “Lebih baik kita cerai, Pak, kal...

Memory 1

Aku seperti tenggelam dalam laut kesia-siaan. Menunggu begitu lama hanya untuk mematahkan hatiku sendiri. Dengan keras kepala aku tetap menunggumu dan dengan ringan kaki kaki kau meninggalkanku. Seharusnya tidak ada yang perlu aku sesali ataupun tangisi, aku sudah tahu pada akhirnya akan seperti ini. Tetapi akhir yang menyedihkan meski sudah diduga sebelumnya, selalu saja ada sisi menyakitkan yang tidak bisa ditahan-tahan. Melihatmu berbahagia dengan perempuan lain, membuat hatiku sangat ngilu. Tentu saja ini buka salahmu. Sudah sejak awal kau mematahkan harapanku, tapi tetap saja aku berharap. Seperti katamu, aku perempuan bodoh yang hanya bisa menunggu. Tapi apa yang salah dari kata 'menunggu' ? Semua orang selalu menunggu hal-hal baik tapi aku rela menunggu untuk hal-hal pahit, bukankah aku sangat spesial? Tidak ada manusia yang lebih bodoh dariku bukan? Apa pun itu, bagiku bisa mencintaimu adalah hal yang sangat aku syukuri dalam hidup. Di dunia yang semakin tidak waras ini...

Untuk Seseorang

Hei, Sedang apa? Sibuk ya? Kamu tahu nggak, malam ini aku ingin bercerita tentang banyak hal denganmu. Entah kenapa mendadak aku berangan-angan "seandainya kamu di sini, aku akan menceritakan semua kekesalanku ini denganmu." Hari ini aku belajar satu hal kecil, kecil sekali. Kamu tahu kan aku orangnya cuek banget? Anggaplah tahu ya. Hehe Tanpa sadar rasa cuekku terkadang menyakiti orang lain. Aku selalu berusaha untuk tidak menyakiti orang lain tapi nyatanya masih saja ada orang yang merasa tersakiti karenaku. "Apa salahku?" Pertanyaan itu selalu saja muncul ketika aku sedang ada masalah dengan seseorang. Akhir-akhir ini sering aku renungkan. Kayaknya aku memang banyak salah. Banyak salah karena tidak sadar akan kesalahan yang dilakukan oleh diri sendiri. Bukankah aku jahat sekali? Sebetulnya aku juga sedang berpikir barangkali kamu bukan orang yang beruntung dicintai olehku. Aku hanya perempuan jahat yang tidak menyadari kesalahan sendiri. Kamu orang paling si...

Sebuah Cerita dan Seekor Burung

“Apa yang kau tatap dari lapangan itu?” tanya Rengganis pada  Rangga yang tampak khusuk menatap lapangan sepak bola. “Tidak ada.” Rangga menjawab datar. “Tak perlu sungkan, berceritalah.” Rangga mengalihkan tatapannya, tangannya sibuk merapikan buku-buku yang sedari tadi ia buka-buka untuk melengkapi data-data di draft skripsinya. Ia juga menutup laptopnya dan memasukkannya ke dalam tas. “Ayo makan.” Ajak Rangga pada Rengganis, kekasihnya. Rangga seorang mahasiswa aktivis kampus yang sudah menjadi mahasiswa hampir lima tahun. Ia bukan mahasiswi yang bodoh, hanya saja ia terlalu sibuk dengan status kemahasiswaannya. Baginya menjadi mahasiswa adalah sebuah pekerjaan tanpa dibayar. Ia sibuk mengurusi rakyat-rakyat kurang mampu, ia sibuk mengajar anak-anak jalanan yang tidak mampu sekolah, ia sibuk mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah yang dirasa kurang adil. Pengabdiannya pada masyarakat bahkan lebih besar dari pengabdian seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat. ...

Perihal Skripsi dan Problematikanya

Hai, lama nggak nulis di blog. Ini adalah tulisan pertama gue di tahun 2019. Beberapa waktu belakangan, gue udah mulai males ngisi blog. Bukan males karena nggak ada ide, tapi males ngetiknya. Seandainya ada laptop yang bisa ngetik sendiri ketika dengerin gue ngomong, mungkin kemalasan ini tidak akan berlanjut sampai sejauh ini. Tapi sampai sekarang belum  gue temukan laptop semacam itu. Hehe. Alasan gue untuk kembali menulis di blog adalah karena akhir-akhir ini gue mangalami banyak keresahan dan kegelisahan yang gue nggak tahu harus gue curhatin ke siapa. Curhat ke orang-orang terdekat menurut gue bukan sesuatu yang melegakan dan hanya menambah gue down dan semakin nggak keruan. Di saat itulah gue kembali mengenang masa-masa ketika gue masih suka nulis keresahan dan kegelisahan gue di blog, rasanya melegakan dan membuat gue merasa lebih baik. Jadi, tidak ada salahnya kan kalau saat ini gue mencoba buat melakukan kebiasaan lama tersebut. Sesuai judulnya, saat ini gue dala...

Semangkuk Mie

"Aku ke sini hanya ingin melihatmu. Aku lega bahwa ternyata kau baik-baik saja." Aku tak bergeming dan tetap fokus merajang cabai rawit hijau dan sawi hijau sembari menunggu air dalam panci mendidih. "Aku tahu, aku salah. Tidak memercayaimu. Dan sekarang aku menyesal." Wanita mungil itu tetap berbicara, tak perduli aku mendengarkannya atau tidak. "Aku terlalu egois. Dan tidak bisa mengontrol emosiku. Tapi kau tahu kan itu semua karena apa?" Aku tetap diam. Air di panci sudah mendidih. Aku memasukkan rawisan cabai dan sawi itu ke dalam panci. "Aku cemburu. Aku tidak bisa mengontrol emosiku ketika cemburu. Maafkan aku." Kudengar dia yang duduk di kursi meja makan itu terisak. Aku membuka bungkus mie instanku. Dan mencelupkannya ke dalam air mendidih menyusul rawit dan sawi yang telah kumasukkan sesaat lebih dulu. "Kau boleh membenciku dan aku juga tidak berhak memaksamu untuk memaafkan. Tapi, bisakah kau kembali ke rumah kita? Ranjang ...