Posts

Closing 2022

Hari terakhir di tahun 2022. Banyak hal yang terjadi tahun ini. Di hidupku tahun ini tahun paling serakah sih. Mengambil banyak sekali orang-orang dan hal-hal yang kucintai. Orang-orang yang kudoakan agar senantiasa dipanjangkan umurnya, ternyata hanya sampai di tahun ini jatah usianya. Sedih, kecewa, takut, bercampur jadi satu ini. Hingga rasanya tubuh sudah tidak mampu lagi untuk sekedar mengambil dan menghembuskan nafas. Sedikit lebay sii. Tapi memang iya, rasanya lelah sekali dan akhirnya mengubah banyak hal dalam hidupku. Entahlah.  Diam adalah emas.  Haha jujur aku nggak ngerti kenapa di tahun ini rasanya aku malas sekali berbincang dengan orang baru. Padahal aku ingat banget, dulu aku selalu excited dengan hal-hal baru tapi sekarang kayaknya semua hal biasa saja. Sejauh ini belum kutemukan hal yang menarik yang membuat rasa excited- ku muncul kembali. Banyak pelajaran yang kuambil. Berbicara banyak ternyata sangat melelahkan. Mungkin karena itu Tuhan hanya menciptakan satu mulut

(Bukan) Review: Muhammad #4: Generasi Penggema Hujan

Image
Judul Buku    : Muhammad: Generasi Penggema Hujan Penulis          : Tasaro GK Tahun Terbit : cetakan pertama, April 2016 Novel Muhammad: Generasi Penggema Hujan merupakan seri terakhir dari tetralogi novel biografi nabi Muhammad SAW karya Tasaro GK. Pada seri terakhir ini penulis menceritakan masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Berbeda dengan seri pertama, kedua, dan ketiga pada seri terakhir ini saya tidak bisa membendung rasa penasaran saya dengan akhir dari segala petualangan Kashva. Saya tahu bahwa akhir dari segala petualangan Kashva yang sejak seri pertama menjadi tokoh yang penuh petualangan akan berakhir di seri ini. Meskipun Kashva bukanlah inti dari cerita novel ini, tapi petualangan Kashva merupakan kisah selingan yang membuat kita berpikir bahwa semasa perjuangan Rasulullah SAW mungkin memang ada seorang 'Kashva' yang mempelajari agama Islam dengan cara yang tak mudah dan penuh petualangan. Justru yang menjadikan novel ini menjadi unik dan sangat asyi

People Come and Go

Lo terkadang suka mikir nggak sih, kenapa seseorang bisa ninggalin Lo?  Bukan cuma ditinggalkan pacar, tapi ditinggalkan teman, ditinggalkan salah satu annggota keluarga, ditinggalkan orang yang lo sayang, siapapun itu. Gue akhir-akhir ini lagi sering banget mikirin hal itu. Kenapa ya, orang-orang tiba-tiba meninggalkan gue? Alasannya apa ya? Apa yang salah dari diri gue? Apa yang kurang dari diri gue? Seburuk itukah gue? Apa karena fisik gue ya? Apa karena attitude gue ya? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang semuanya merujuk ke diri gue sendiri.  Gue sebagai orang yang sudah mengenal kata 'diitinggalkan' sejak gue kecil, harusnya sudah tidak masalah ya dengan momen ditinggalkan. Fyi, gue ditinggalkan Bapak gue sejak gue kelas 3 SD. Di mana di usia segitu ingatan gue sedang sangat baik. Tapi ingatan gue justru diisi dengan momen ketika gue nangis kejer karena Bapak gue meninggal. Terus terang sih, di usia segitu gue belum paham arti kata 'meninggal' karena ya memang di

Usia 25 dan Problematikanya

Halo! Masih ada yang suka mampir ke blogku ga nih? Komen dong kalau masih. Biar gue semangat update. Wkwk Gue mau curhat guys. Pokoknya gue kalau mau nulis di blog ya pasti curhat ya. Kayak nggak punya teman aja ya. HAHA Ketika gue menulis curhatan ini usia gue 25 tahun. Usia seperempat abad yang kata mereka inilah fase-fase Quarter Life Crisis . Usia di mana gue nggak tahu tujuan hidup gue mau kemana, karir gue mau bagaimana, asmara gue juga harus bagaimana, dan banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang gue nggak tau jawabannya apa.  Semakin Dewasa Permasalahan Hidup Semakin Kompleks Banyak banget permasalahan hidup yang kompleks, yang bahkan gue nggak mau loh berurusan sama hal itu tapi kenapa tiba-tiba gue dapat masalah hidup di situ, gitu loh. Ini menyita waktu dan melelahkan banget buat gue. Gue sudah berusaha hidup dengan baik, memperlakukan orang lain sebaik yang gue bisa tapi kenapa, kenapa tetap saja terkadang gue nggak dapat feedback yang baik juga dari orang lain? Gue kecewa ba

Kesedihan Yang Terjual

Semenjak ia pergi dari kehidupanku rasanya hidup ini sudah terbakar api dan hanya tinggal abu yang tersisa. Abu itu tertiup debu lalu terbuang sia-sia atau jika sedang beruntung abu itu bisa dijadikan pupuk tanaman oleh siapa saja yang suka tanam-menanam. Tetapi, apa pun itu, abu tetaplah abu, bukan manusia yang bisa apa saja dan merasa apa saja. Termasuk merasa bahagia. Abu hanya bisa pasrah   pada tiupan angin. Kemana pun angin bertiup di situlah abu terbawa. Barangkali semacam itulah gambaran diriku saat ini. Tak ada yang berarti. Hanya manusia sia-sia. Aku ingin kembali hidup dan bernyawa sebagai manusia. Tapi apa daya, seluruh hidupku telah ia bawa pergi. Seluruhnya tak ada yang tersisa. Bahagiaku, sedihku, segala emosiku telah ia curi dan entah akan ia kembalikan lagi atau akan ia nikmati sendiri. Kini, aku hanya manusia yang hidup tapi mati. Tanpa emosiku. Jika ada anak kecil yang melihatku, barangkali ia akan berpikir aku ini robot mainannya. Karena itulah aku lebih memilih men

Pada Akhirnya Ternyata Biasa Saja

Tahun 2022 masih terlalu dini untuk di isi dengan patah hati. Tapi nyatanya memang harus seperti ini. Di bulan kedua yang intensitas hujannya masih sangat tinggi ini, hati gue dipatahkan lagi. My Favorit person , dia resmi mendeklarasikan dirinya meminang perempuan lain yang entah siapa, gue juga nggak kenal. Hehe Gue suka sama dia sudah lama sebetulnya. Mungkin ini tahun keempat jika saja tahun ini dia belum resmi jadi milik perempuan lain. Gue nggak pernah ada hubungan spesial sama dia. Gue cuma kagum, suka, dan selalu merasa lega dan aman ketika gue ingat sama. Bisa di bilang setiap kali ada masalah orang pertama yang bisa gue bikin merasa tenang dan aman ya dia. Meskipun gue juga nggak yakin kalau dia tahu bahwa perannya di hidup gue seberarti itu. Makanya kan gue bilang he’s my favorit person . Bukan pacar atau atau apapun itu. Pokoknya ya, dia jadi orang favorit aja gitu. Kayaknya belum ada deh, gue kenal sama laki-laki lain yang bisa menjadi favorit banget di hati gue kayak

Jaga Jarak

Aku mendengar Ibu dan Bapak bertengkar lagi perihal uang. Bapak baru saja di rumahkan beberapa bulan yang lalu akibat pandemi covid-19. Perusahaan tempat Bapak bekerja melakukan pengurangan pegawai dan Bapak ialah salah satu pegawai yang memenuhi kriteria untuk di rumahkan. Mengingat usianya yang dianggap sudah bukan usia yang produktif lagi. Ibu terus mengomelinya tanpa henti setiap saat. Ibu bilang “Mau di kasih makan apa anak-anak, Pak. Kalau seperti ini terus, Pak.” Sembari menangis Ibu terus mengoceh pada Bapak. Sedangkan Bapak hanya diam sembari menahan kepiluannya sendiri. Tiara dan Andi sedang tak di rumah. Mereka sedang di tempat Paman menumpang wifi untuk mengerjakan tugas sekolahnya. Hanya Paman lah yang mau berbaik hati menyumbangkan jaringan internetnya untuk kepentingan pendidikan. Tidak heran, karena pamanku seorang dosen di salah satu universitas swasta di kota kami. Beliau tentu sangat perduli pada pendidikan anak-anak di desa kami. “Lebih baik kita cerai, Pak, kal